Rabu, 05 Maret 2014

Bali Topless

loading...


Wanita Bali pada jaman dulu tidak menutup bagian atas tubuhnya, catatan tentang wanita Bali yang tidak menutup bagaian atasnya dapat ditemukan dalam tulisan Margaret Wiener tentang Breast,(un)dress, and Modernist desires in Balinese- Tourist encounter. Wiener menuliskan berdasarkan pengalam dokter jerman. 


Gambar klasik tentang Bali Wanita dengan dada terbuka dan membawa beban diatas kepalanya 

Pada tahun 1920 seorang dokter Jerman bernama Greoger Krause menuliskan pengalamannya di Bali selama 18 bulan, dituliskan dalam buku yang diterbitkan di Jerman pada tahun 1920. Dituliskan oleh Kruger bahwa wanita Bali umumnya cantik, bahu yang lebar bergaya ketimuran dan membawa beban diatas kepalanya. otot-otot dadanya yang kuat sehingga membentuk buah dada yang indah. Pakaian yang digunakan sebuah sarung segiempat kamben/wastra yang membungkus dari pusar ke kaki.Ada rangkaian bunga yang digunakan untuk perlengkapan pakain dan ikatan kain melilit ditubuhnya seperti ikat pinggang berwarna seperti kuning merah atau hijau. Bagian atas tubuhnya dibiarkan telanjang, ada anggapan mengenakan jaket dapat dianggap sebagai wanita murahan. Laki laki Bali juga menggunakan kamben dan seperti wanita juga membiarkan dadanya terbuka. Hal ini dilakukan hanya untuk kegiatan rutin sehari-hari. 

Berpakaian tradisional lengkap dengan dada terbuka

 Krause menuliskan juga bahwa wanita bali menutupkan dada mereka dengan kain tenun ketika memasuki pura, puri  atau rumah-rumah orang Eropa. Jadi ada dua cara berpakaian wanita atau pria bali ketika untuk kegiatan rutin atau untuk ke pura/puri. Kebiasaan wanita Bali yang tidak menutup bagian dadanya merupakan hal yang menarik dalam brosur pariwisata (sejak dulu Bali memang tujuan wisata) selalu menampilkan gambar atau tulisan tentang hal tersebut. 
 Perkembangan jaman secara pelahan-lahan wanita Bali mulai menutup bagian dada. Wanita Bali mulai menutup dada perubahan sosial terjadi dengan membiarkan dada terbuka sama saja seperti menanggalkan pakaian.  Berdasarkan catatan tertulis pada tahun 1955 pertanyaan orang di luar Bali, ketika membicarakan pulau Bali adalah apakah betul wanita-wanita Bali telah menutup dadanya? 


Iklan BH bermerek Bali

Kondisi wanita Bali yang tidak menutup dadanya ternyata memberikan ide bagi sebuah perusahaan di Amerika untuk memberikan nama Bali pada BH yang dibuatnya. Dengan menggunakan slogan Keindahan buah dada wanita Bali yang terbentuk karena kebiasaan mengangkat beban di atas kepala, dapat diperoleh wanita lain secara mudah  dengan menggunakan BH merek Bali. 
Tapi sekarang berbeda jika dulu wanita Bali membiarkan dadanya terbuka, maka sekarnag turis-turis wanit di Bali membiarkan dadanya terbuka.


Mengapa harus memakai BH merek Bali

Kamis, 23 Januari 2014

Menelusuri Nordwijk

loading...






Hotel Des Galeries masih polos tanpa menara-menara
di atas hotel.


 Hotel Des Galeries

Hotel Des Galeries yang sampai sekarang masih ada dengan nama Hotel Melati. dibangun tahun  1930 hasil kerjasama antara Cuypers dan A.F. Dijkstaal. Hotel tersebut dirancang oleh EGH Cuypers, arsitek terkemuka di Hindia Belanda. Posisi bangunan berada di sudut pertemuan Molenvielt dan  Noordwijk


Simpang Harmonie masih berdiri hotel Wisse
gambar menghadap  ke barat


Gambar diatas pemandangan sekitar Harmoni tahun 1890   bangunan diujung adalah Eigen Hulp Toserba pertama di Batavia. disebelah kanan  pertemuan  Molenvielt (Hayam Wuruk) dan Nordwijk (Juanda) ada banguan Hotel Wisse. Pinggiran kanal ciliwung masih ada jalur hijau juga ada tempat berupa anak tangga yang menuju sungai untuk penduduk melakukan kegiatan mencuci dan mandi.

 
 Perkembangan simpang Harmonie
bandingkan dengan gambar diatas

Di sekitar Harmoni sudah berdiri Bank Tabungan
atau Postspaarbank



ENLVM

Pemandangan sekitar harmoni yang terus berkembang, Eigen Hulp masih berupa gedung satu lantai tapi di Noordwijk sudah ada tambahan gedung baru  digunakan sebagai ENLVM (Eerste Nederlandse Levensverzekering Maatschappij) dan jalan pinggiran kanal Ciliwung  sudah mempunyai talud.

Urutan bangunan mulai dari ujung barat Noordwijk adalah Toko Bonefaas yang ada disamping Hotel Des Galeries yang merupakan toko yang menjual pakian anak-anak dan bayi, tidak nampak dalam gambar-gambar di atas, kemudian De Tabaksplant Tobacco Toko yang menjual tembakau dan perlengkapannya pada gambar ada  bangunan  dengan bagian muka atas  berberntuk segi tiga selanjutnya Toko es krim Maison Coesel Terhalang gedung ENLVM (Eerste Nederlandse Levensverzekering Maatschappij) sebuah perusahaan asuransi jiwa yang bagian atas mempunyai kubah kemudian Toko tembakau dan rokok Anton Jusman dan kantor perwakilan Kodak.


 Perkembangan simpang harmonie  terdapat gedung 
baru yang di tempatkan Perusahaan Asuransi 
Dordrecht gambar menghadap ke timur 




 FB Smits Encadrementen merupakab toko penjilidan 
buku dan pembuatan bingkai


NILLMIJ

Levensverzekering  Maatschappij "Dordrecht" sebuah perusahaan asuransi jiwa yang berpusat di Belanda. kemudian perusahaan asuransi ini diambil alih pada tahun 1919 oleh NILLMIJ (kemudian Ennia dan AEGON). The NILLMIJ ("Nederlandsch-Indische Levensverzekering- en Lijfrente-Maatschappij") adalah sebuah perusahaan asuransi di Hindia Belanda dan memiliki cabang di Belanda. Setelah nasionalisasi  hanya aktif di Belanda. Operasi di Indonesia diganti dengan nama "PT Asuransi Jiwasraya". (Sumber Wikipedia)
Perusahaan NILLMIJ didirikan pada tahun 1859 oleh C.F.W. Wiggers dari Kerchem, bekerja sama dengan Bank Java. Kesuksesannya di Hindia Belanda karena keterkaitan dengan pemerintah. Monopoli ini berakhir pada tahun 1883, ketika perusahaan asuransi lain diizinkan di koloni.
NILLMIJ berada pada bangun gedung perkantoran arsitektural di Hindia Belanda.




Gedung NILLMIJ dengan keindahan arsitekturnya
berada pada simpang gang Thibault





 Biara Santa Maria terletak pada sebelah kanan,
gambar diatas mengarah ke Harmoni

Gedung Santa Maria

Pada tahun 1853 Mgr. Petrus Maria Vrancken berhasil membeli sebuah rumah gedung besar berlantai 2 dan berhalaman luas di Noordwijk no. 29  seharga 30.000 gulden.  Tempat ini sangat strategis karena letaknya berseberangan dengan Istana Gubernur Jendral yang merupakan pusat pemerintahan. Pada tahun 1854  Mgr. Petrus Maria Vrancken  kembali ke Eropah. Di sana beliau mencari dukungan kepada Mgr. Peredis, Uskup Roermond dan menyempatkan mengunjungi Biara Ursulin di Sittard, Belanda. Kepada pimpinan Biara Ursulin di Sittard itu, beliau menyampaikan obsesinya dan meminta tenaga sukarelawati dari Suster Ursulin untuk misinya, yaitu mendirikan pusat pendidikan di tanah Jawa. Ternyata permintaan Monseignur itu disambut dengan sangat antusias oleh para suster Ursulin Komunitas Sittard.  Pada tanggal 7 Februari 1856  para missionaris ini mendarat di pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia, langsung diajak menuju Gedung besar berlantai 2 dan berhalaman luas yang terletak di Noordwijk 29 yang memang telah dipersiapkan oleh Mgr. Vrancken sejak tahun 1853 untuk dijadikan Biara dan pusat pendidikan.   Maka sejak Tanggal 7 Februari 1856, di Noordwijk 29 atau sekarang Jl.Ir.H.Juanda 29 menjadi awal berkaryanya Suster Ursulin di Indonesia.



Biara (groote klooster) Santa Maria  terletak pada
sebelah kanan gambar  mengarah ke Harmoni


Gedung Santa Maria (groote klooster)


Toko buku G Kolff &co merupakan toko buku terbesar
berada di daerah Noordwijk deretan dengan Biara Santa Maria
Gambar ini menghadap ke barat dari Harmoni


Kolff & Co

Perusahaan penerbitan dan Toko buku Kolff & Co dimiliki oleh Gualtherus Johannes Cornelis Kolff merupakan perusahaan penerbit dan toko buku terbesar di Hindia Belanda, Sebetulnya, Kolff datang belakangan karena pemilik perusahaan ini semula bernama Willem van Haren Noman. Tahun 1850,  Kolff tiba dari Holland dan bergabung dengan Noman. Tahun 1858, Noman kembali ke Belanda, maka selanjutnya Kolff sendirilah yang menjadi pemegang perusahaan. Toko bukunya bermula dari sebuah ruangan sewaan kecil di Jl. Pintu Besar Selatan, Selain itu mereka juga mempunyai toko buku di Noordwijk (Jl. Juanda) yang dekat dengan pusat pemukiman di selatan, juga beberapa cabang di seluruh Jawa.
G. Kolff & Co merupakan penerbitan yang aktif, menjadi promotor penerbitan surat kabar perintis Java Bode (1850) dengan cabang di Semarang (de LocomotiefJ dan Surabaya (Het Soerabaiasch Handelsblad), meluncurkan Bataviaasch Nieuwsblad (1885). Pemerintah juga memberikan kontrak untuk mencetak bandrol (surat jaminan) bagi pemungutan cukai tembakau (1932). Selain itu juga pemasok utama buku pendidikan di Hindia Belanda dan produsen kartu pos bergambar terbesar di Batavia. Kartu pos ini memberikan gambaran penting tentang topografi Batavia pada dua dekade pertama abad XX. Perusahaan ini bertahan hingga lebih dari satu abad, kini sudah tak ada lagi.




Toko buku Kolff dilihat dari arah barat






Bangunan disebelah kanan dari gambar adalah penjahit pakaian pria M de Koning tahun 1902, kemudian NHM Nederlandsche Handel-Maatschappij perusahan dagang Belanda merupakan kantor cabang. Kantor pusat NHM ada didepan stasiun kota,  disebelah kirinya adalah onderling Hulp departemen store tahun 1885





kantor KPM yang berada di Noordwijk
dilihat dari arah timur


Koninklijke Paketvaar Maatschappij

KPM atau Koninklijke Paketvaar Maatschappij,  perusahaan pelayaran yang mempunyai kedudukan di  Amsterdam, perusahaan perkapalan utama di Hindia dari tahun 1891 sampai akhir masa kolonial. Didirikan pada tanggal 12 Agustus 1888.  Pada bulan Juli 1890 juga membuka kantor di daerah Kali Besar Batavia. Kemudian KPM mendirikan kantor pusatnya di Noordwijk.



Pasar Baroe

Pasar yang berdiri pada masa kolonial ada tiga yaitu pasar Glodok, pasar Tanah Abang dan pasar Senen. Pada pengembangan kota Batavia dibuat kota baru diselatan yang disebut Weltevreden disinilah dibuat pasar untuk memenuhi warga Weltevreden yaitu pasar Baroe. pasar ini memang pasar khusus untuk melayani warga kelas atas yang tinggal di Weltevreden. Letak pasar Baroe di ujung jalan Noodwijk.



Pasar Baroe sekitar tahun 1940 

Jumat, 04 Oktober 2013

Labbaika Alloohumma Labbaika, berangkat ke Tanah Suci tgl 7 Oktober

loading...

Labbaikallahumma Labbaik
Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik
Innalhamda Wan Ni’mata
Laka Wal Mulk
Laa Syarikalak





Masjidil Haram  Mekah gambar diambil dari
majalah "L'ILLUSTRATION" tahun  1894.

Rabu, 11 September 2013

Kisah Enamel Cap Kerbau

loading...
Beberapa minggu yang lalu, saya melihat-lihat situs jual beli ebay, tak sengaja saya menemukan enamel iklan jaman Ned Indie, tertulis  Tjap Karbau mohon dicatat bukan kerbaoe karena ejaan Van Ophuijsen bunyi diftong au tetap ditulis au bukan aoe. Semula saya menduga seller atau yang jual pasti dari Indonesia, ternyata dugaan saya salah, barang tersebut dijual dari Amerika.

Kemudian saya mengontak seller untuk melakukan nego, ternyata si penjual penah tinggal di Indonesia selama 10 tahun, namanya kita sebut saja pak Bob, waktu di Indonesia dia tinggal disekitar Ragunan Jakarta.Tawar menawar akhir sepakat harga US$ 450 ong kir dan asuransi ditanggung oleh pak  Bob, saya pikir harga  yang wajar untuk sebuah iklan enamel  yang masih mulus. Selama kontak-kontak dengan pak Bob ternyata dia memang menyenangi barang lama, seperti enamel ini diperoleh waktu dia ada di Malang dari penjualn bernama pak Hendra. Selain itu di juga suka ke Ciputat dan  kenal baik dengan pak Buyung, hallo pak Buyung! masih ingat dengan Bob?  dan jual penjual barang antik lainnya Ko Ayun yang berasal dari Lampung, hallo Ko Ayun!. Selain itu makanan Indonesia yang disukai adalah rendang, tak heran CNN GO menobatkan sebagai makanan terenak di dunia.

Selanjutnya tinggal menunggu barang datang, karena menggunakan EMS pengirimana dapat dilacak baik lewat  web USPS maupun wen Pos Indonesia. 10 hari kemudian datang panggilan dari kantor pos Fatmawati, sekaligus pembertahuan bahwa saya harus bayar bea masuk yang kalau saya konversikan ke Dolar Amerika sekitar US$ 120, woow jumlah yang sangat tinggi, juga yang tertinggi selama saya belanja lewat transaksi online. Dengan hati berat terpaksa saya bayar, terus terang masih gak ikhlas untuk bayar pajak.

Perjalanan enamel ini ternyata  jauh juga mulai dibuat di Amsterdam Belanda ke Batavia Ned Indie lalu ke Malang kemudian kembali ke Jakarta, terbang ke Panama City Amerika dan kembali lagi ke jakarta. Mungkin dapat dinobatkan sebagai iklan enamel   perjalanan terjauh   yang melalui 3 benua dan tiga negara.





Paket telah sampai





Cap Kerbau telah kembali ke Indonesia.








Senin, 02 September 2013

Moto Jual Beli barang

loading...






Moto Blog jual beli de djadoel

Rabu, 31 Juli 2013

Gambar Foto 3 Dimensi Indonesia Jaman Dulu

loading...
Perkembangan teknologi  3 Dimensi sudah demikian maju bukan hanya gambar saja tapi sudah merambah ke  film dan televisi. Sebetulnya teknologi 3 D sudah dirintis lebih dari 150 tahun yang lalu. Kalau gambar hasil jeptretan kamera diciptakan pada tahun 1824, maka konsep 3D sudah mulai dikembangkan  pada tahun 1838. Berawal dari penelitian Profesor Charles Wheatstone bahwa manusia dapat membedakan jarak ruang ketika otak mengkombinasikan dua gambar yang berbeda tipis. Kedua mata kita berjarak kurang lebih 6 cm masing-masing menangkap gambar yang hampir sama, akibat perbedaan tangkapan gambar tersebut, Porfesor Wheatstone percaya bahwa kita akan melihat dunia  dalam tiga dimensi. untuk membuktikan teorinya. Wheatstone menciptakan alat yang disebut sterescope untuk melihat dua gambar yang hampir sama yang selanjutnya gambar tersebut disebut gambar stereo (stereography). Dalam kurun hampir 50 tahun kemudian berkembanglah foto stereo yang selanjutanya mulai populer didunia hiburan.
Gambar-gambar foto stereo bukan hanya dibuat  di Amerika tapi juga diseluruh dunia. Perusahaan Keystone View membuat foto 3 D diseluruh dunia termasuk di Indonesia waktu itu masih bernama Hindia Belanda. Gambar-gambar dibawah ini adalah hasil karya Keystone View di Indonesia tempo dulu.


Sekilas tentang Keystone view company

Keystone View Company  adalah perusahaan yang mendistribusikan gambar-gambar 3 dimensi (gambar stereo)  berlokasi di Meadville Pennsylvania Amerika serikat. Dari tahun 1892 sampai dengan tahun 1963 Keystones memproduksi dan mendistribusikan alat pendidikan dan gambar-gambar 3 dimensi.
Tahun 1905 Keystone merintis Departemen Pendidik yang menjual slide atau foto-foto transparan untuk ditampilkan di proyektor untuk keperluan sekolah mereka juga memproduksi peralatan lantera proyektor (istilah pada masa itu.)


Gambar pemandangan pasar tradisional di Weltevreden tidak 
disebut lokasi tepatnyaFoto 3 D ini diproduksi oleh  Keystone 
View Companya digunakan oleh Reymond Whitcomb Cruise sebagai
suvenir dalam  perlayaran tour keliling dunia.


Sebetulnya penjualan  lantera proyektor dan gambar-gambar stereo dirintis oleh Underwood &Underwood, jadi Underwood&Underwood dan Keystone saling bersaing dalam hal penjualan peralatan tersebut. Tapi keystone secara agresiv dapat merebut pangsa pasar terbesar. Akhirnya tahun 1963 Keystone menutup Departemen yang memproduksi gambar 3D dan Departemen yang memproduksi alat-alat pendidikan. Diperkirakan Keystone telah menghasilkan dua juta foto 3D.






Gambar penari tradisional jawa dibuat dalam warna


Gambar penari tradisional jawa dibuat dalam hitam putih


Gambar letusan gunung Merapi di Jawa


Keindahan   pegunungan tropis disuatu daerah 
di  Jawa yang diceritakan seperti di surga


Pasar di suatu deas di Jawa



Bunga teratai yang ada di Kebon raya Bogor



Durian merupakan  buah yang terbaik di Hindia Belanda



Buah nangka yang dijadikan obyek foto



Foto orang utan



disebuah jalan di kota Bogor



Candi Borobudur tetap menjadi obyek yang menarik
untuk di foto



Pemandanag matahari terbit di suatu tempat 
di pinggir pantai


Upacara adat di Jogjakarta



Untuk melihat gambar-gambar di atas dalam bentuk
tiga dimensi diperlukan kaca mata yang biasa disebut
stereo scope





Untuk membuat foto stereo diperlukan kamera
khusus dengan dua lensa disebut juga
kamaear stereo

Senin, 25 Maret 2013

Menelusuri Weltevreden (Harmoni)

loading...



Daerah Weltevreden adalah dari pengembangan kota Batavia, kalau kondisi sekarang mulai dari daerahj sekitar jalan Gajah Mada& Hayam Wuruk, Harmoni, Tanah Abang belok ke timur ,Monas, Gambir, Senin lalu ke ke utara Gunung Sahari balik ke barat  lagi  Lapangan Banteng, Pasar Baru dan kembali lagi ke Harmoni

VOC

Sejarah Weltevreden saya ambil dari wikipedia , situs jakarta dan catatan Dr Dirk D. Teeuwen.  Secara garis besar sejarah Weltevrden di bagi dua periode yaiu VOC dan Pemerintah Hindia Belanda. 
Bermula pada tahun 1648 VOC memberikan tanah kepada Anthonij Paviljoun  (berarti 46 tahun setelah berdirinya VOC). Tanah ini pertama kali digunakan untuk peternakan dan pertanian.Kemudian kepemilikan beralih kepada Cornelis Chastelein pada tahun 1693 dan Cornelis mengunakan tanah ini untuk perkebunan kopi dan memberi nama Weltevreden yang berarti suasana puas dan tenang. Kepemilikan tanah kembali berpindah ke Justinus Vinck pada tahun 1733.Justinus membuka dua pasar di Weltevreden yaitu pasar Tanah Abang dan pasar Senin dan dia juga membuat jalan yang menghubungkan kedua pasar tersebut ( sekarang bernama jalan Prapatan dan Kebon Sirih). Tahun 1749 kepemilikan Weltevrden beralih ke Jacob Mossel  Gubernur Jendral VOC ke 28. Mossel membangun rumah mewah di dekat sungai Ciliwung yang bernama lendhuis Weltevreden ( sekarang komplek RSPAD). Pada tahun 1767 Petrus Albertus van der Parra Gubernur Jendarl VOC ke 29 membeli Weltevreden dan kepemilikan terakhir adalah Gubernur Jendarl VOC 33 yang merupakan Gubernur Jendral VOC terakhir yaitu Pieter Gerardus van Overstraten pada tahun 1797. Selama perubahan status kepemilikan, di Weltevreden, banyak pemukiman baru yang berkembang akibat kondisi Batavia yang kurang sehat.



Seorang turis Amerika memuji kota Batavia yang 
dikatakan sangat bersih dan cantik pada tahun 1925


Hindia Belanda


Ada dua Gubernur Jendral  yang berpengaruh membangun kota batavia yaiyu Jan Pieterzoon Coen dan Herman Willem Daendels.
Jika Jan Pieterzoon Coen membangun kota Batavia lama  maka Herman Willem Daendels.  memindahkan pusat pemerintahan dari kota Batavia lama ke  Weltevreden pada tahun 1809 dan melakukan  pembangun antara lain istana yang disebut Het Groote Huis atau disebut juga Gouvernements Hôtel sekarang menjadi kantor Departemen Keuangan, gedung HarmonieSocieteit, pasar baru , lapangan Waterlooplein dsb. Bangunan peninggalan Daendels juga banyak ditemukan di Surabaya. Daendels lebih dikenal sebagai pembuat jalan dari Anyer ke Panarukan. Dibandingkankan dengan Jan Pieterzoon Coen pencitraan  Daendels lebih buruk walaupun sebenarnya keduannya sama buruk tapi karena sifat Daendels yang kasar sehingga mempunyai banyak musuh dikalangan orang Belanda sendiri sehingga dibuat pencitraan yang sangat negatif. Pada masa perpindahan pusat pemerintahan ke Weltevreden, Daendels banyak menghancurkan bangunan-bangunan di Kota lama Batavia. Gerbang Amsterdam merupakan salah satu bangunan yang lolos dari penghancuran.




Hotel De Provence(1829)/Roterdam(1851)/ Des Indes(1856)/ Duta(1960-1971)


  
Gerbang Hotel Des Indes, sekitar  tahun 1920
Belum ada lajur tram didepan Hotel.




Hotel De Provence/Roterdam/ Des Indes/Duta terletak di jalan Molentvielt west (sekarang Gajah Mada Hotel sudah dibongkar menjadi pusat pertokoan).Hotel ini merupakan Hotel terbesar di batavia dan bintang film Amerika jaman dulu John Wayne pernah menginap di Hotel des Indes.
Bermula pada tahun 1829, tanah dan bangunan bekas sekolah asrama putri yang terletak di Molenvielt West  dibeli   Antoine Surleon Chaulan (orang prancis) yang kemudian  mendirikan sebuah hotel bernama Hotel de Provence .Nama de Provence diambil dari daerah Perancis selatan kampung halaman  Chaulan . 


Gerbang Hotel Des indes  Molentvielt west 
sekitar tahun1920. Posisi Hotel ada disebelah kiri
jadi foto diambil dari arah Harmonie


Pada tahun 1845, Etienne Chaulan putra Antoine Surleon Chaulan  mengambil alih hotel. Pada tahun 1851 Hotel ini berganti nama menjadi Rotterdamsch Hotel di bawah manajemen Cornelis Denning Hoff. Hotel Rotterdamsch ini mempunyai manajemen yang buruk sehingga kurang disukai. Kemudian hotel tersebut dijual kepada orang Swiss yang menikah dengan keponakan perempuan dari Etienne Chaulan bernama François Auguste Emile Wijss pada tahun 1852.



 
Hotel Des Indes sekitar tahun 1940, sudah ada Lajur Tram


Pada 1 Mei 1856, Wijjs menamakan hotel ini sebagai Hotel des Indes atas usulan Douwes Dekker. Pada tahun 1860 Kepemilikan hotel berpindah kepada orang Perancis bernama Louis George Cressonnier. Pada tahun  1870  hotel ini dijual  kepada Theodoor Gallas, kemudian kembali pindah ke Jacob Lught tahun 1886. Pada masa Jacob Lught Hotel dipugar secara besar-besaran. Hotel des Indes dijadikan perseroan terbatas N.V.  pada tahun 1897.  Pada tahun 1903, hotel ini berada di bawah manajemen J.M. Gantvoort sebelum dikelola oleh Nieuwenhuys.

Tampak dalam Hotel Des Indes

Kemudian diambil alih oleh Pemerintah Indonesia tahun 1960 dan diberi nama Hotel Duta indonesia dan Hotel tersebut dibongkar pada tahun 1971.


Kemewahan ruang makan Hotel Des Indes



Bagian taman di dalam Hotel Des indes



Hotel Ernst(1880)/Wisse (1890)/ Hotel des Galeries (1920)/Hotel Melati(19??)


Informasi tentang hotel Wisse ini sangat sedikit, lain dengan Hotel Des Indes. Hotel Wisse (1860-1890) terletak di  simpang Molenvliet  (JI. Hayam Wuruk)  dan Noordwijk  (Jl Juanda ). Semula merupakan kompleks perkebunan swasta yang dibangun oleh Gubernur Jenderal VOC ke 29 Vander Parra. Nama Hotel  Ernst Nama hotel diambil dari nama pemilik, Ibu Ernst, hanya sampai tahun 1890, kemudian berubah menjadi Hotel Wisse. Bangunan hotel dibongkar pada tahun 1920, kemudian dibangun Hotel des Galeries yang sampai sekarang masih ada dengan nama Hotel Melati. Sekitar tahun 1930 hotel tersebut dibangun kembali dengan kerjasama antara Cuypers dan A.F. Dijkstaal. Hotel tersebut dirancang oleh EGH Cuypers, arsitek terkemuka di Hindia Belanda. Posisi bangunan berada di sudut pertemuan jalan penting ini memberikan kesempatan pada bangunan untuk menjadi tengaran lingkungan  mengeksplorasi potensi dinding bangunan yang kemudian menjadi bidang dekoratif.

Hotel Wisse tahun 1920


Hotel Des Galeries atau sekarang Hotel melati
Harmoni tahun 1960



Harmonie Societeit/Societeit Harmonie (1810-1985)


Keadaan di sekitar Pos Rijswijk tahun 1758 dilokasi ini 
kemudian dibangun gedung Harmoni. Karya
Jan van Schley (1715 - 1779), Dutch engraver.


Sarana tempat berkumpul atau bersosialisasi untuk orang-orang Belanda yang tinggal di Batavia, pertama kali dirintis oleh Gubernur Jendral VOC ke 31 Reinier de Klerk pada tahun 1776. Klerk mendirikan perkumpulan yang bernama Harmoni yang berlokasi di Buiten Nieuwpoortstraat / Jl Pintu Besar Utara. Perkumpulan tersebut berada dilokasi tersebut sampai tahun 1814. Perkumpulan tersebut pindah ke selatan seiring dengan perpindahan pusat pemerintahan ke Weltevreden.




Harmonie Societeit Batavia tahun 1890

Pembangunan gedung ini di Rijswijk dirintis oleh Daendels kemudian dilanjutkan ke Thomas Stamford Bingley Raffles. Berdasarkan catatan  Dirk Teeuwen gedung ini dapat menampung sekitar dua ribu undangan. Gedung ini merupakan gedung perkumpulan orang Eropa di Asia yang tertua sampai tahun 1985. Tempat pertemuan ini merupakan tempat adu gengsi antara orang Belanda umumnya mereka menggunakan pakaian-pakaian yang mahal.


Jembatan depan gedung Harmonie Societeit
yang menghubungkan Noordwijk,Molenvielt dan
Rijswijk tahun 1910

Gedung Harmonie Societeit masih banyak pohon 
didepan gedung tersebut


Bagian kiri adalah samping gedung Harmoni
Bagian kanan gambar ada toko yang bernama 
Oger Freres (1835) milik orang Prancis yang membuka usaha 
pakaian/fashion untuk kalangan atas.Pada tahun 1924
gedung tersebut direnovasi dan tahun 1932 sebuah Travel Agen 
mengambil alih toko Oger.



  
Rijswijkstraat jalan yang memisahkan gedung Harmonie 
dengan pertokoan disebelah kanan sudah dilengkapi dengan
lampu penerang jalan. 



Jalan Majapahit tahun 1905 sesuai  tanggal postcard yang 
dikirim oleh wisata dari Inggris yang baru tiba di batavia




Hotel Marine (1825-1890)/Eigen Hulp(1890-1929)/Postspaar bank(1897)/Chokin Kyoku(19420/ Bank Tabungan Pos(1949)/Bank Tabungan Negara(1950-sekarang)

Hotel Marine (1825-1890)
Terletak di ujung selatan Molenvliet West (Jl. Gajah Mada) di samping perkebunan Moenswijk, Sebelum menjadi hotel (awal 1830-an), tanah dimiliki Tiedeman (1815), Riemsdijk (1819), dan Stelling yang ketika membeli tanah ini sudah digunakan untuk hotel (1833). Pemilik hotel berikutnya Loust, Kramers, Bonnet, dan Girardeau. Hotel Marine sempat menjadi rumah burger societeit bernama De Club sebelum dibongkar kemudian diganti toko Eigen Hulp.



Marine Hotel tahun 1888

Departemen Store Eigen Hulp (1890-1929)

Toko Eigen Hulp Merupakan Departement Store yang juga berbentuk Badan usaha  koperasi pertama yang dibuka di Batavia pada tahun 1885 (Eigen berarti bersama Hulp membantu atau menolong) . Ada Toko sejenis lagi muncul tahun 1929 dengan nama Onderlinge Hulp artinya sama onderilinge atau bersama. Toko tersebut terletak di Noordwijk (Jl. Juanda). 

 Bagian kiri gambar di ujung kanal adalah toko 
Eigen Hulp yang masih satu lantai tahun 1902


Postspaar Bank(1897)/Bank Tabungan Negara(1963)

Postspaar Bank didirikan tahun 1897, pada tahun 1929 menempatkan gedung Eigen Hulp yang bubar. Tidak diketahui dimana kantor Postspaar bank berlokasi sebelumnya, saya belum menemukan tulisan mengenai hal tersebut. Post spaar bank didirikan untuk menghimpun dana dari masyarakat dan mengajak masyarakat agar dekat dengan bank, dengan gerakan mengajak masyarakat untuk menabung. gerakan ini cukup berhasil pada tahun 1931dapat menghimpun data masyarakat sekitar  Rp 54 juta ? banyak yang menyebut angkat tersebut. 1 Gulden Ned Indie awalnya sama dengan 1 rupiah.
  • 1897:Berdiri a Postspaar Bank
  • 1942-1945:Berubah nama menjadi Chokin Kyoku
  • 1950:Menjadi Bank Tabungan Pos
  • 1963:Menjadi Bank Tabungan Negara







Gedung Postspaar Bank sekitar tahun 1930, masih ada 
kubah di bagian atas. Tahun 1932? direnovasi 
sehingga kubah di atas hilang.




Buku tabungan dari Postspaar Bank
cukup sukses dalam menghimpun
dana dari masyarakat


Album kartu pos Weltevreden berosokan 10 kartu pos
tapi yang ditampilkan hanya 6 kartu pos karena keterbatasan tempat





Gambar posisi dari masing-masing gedung di Harmoni
Jakarta




DAFTAR GUBERNUR JENDRAL YANG BERKUASA DI INDONESIA
VOC (1602-1799)
HINDIA BELANDA(1800-1949)
  1. 1610–1614
  2. 1614–1615
  3. 1615–1619
  4. 1619–1623
  5. 1623–1627
  6. 1627–1629: 
  7. 1629–1632: 
  8. 1632–1636: 
  9. 1636–1645: 
  10. 1645–1650: 
  11. 1650–1653: 
  12. 1653–1678: 
  13. 1678–1681: 
  14. 1681–1684: 
  15. 1684–1691: 
  16. 1691–1704: 
  17. 1704–1709: 
  18. 1709–1713: 
  19. 1713–1718: 
  20. 1718–1725: 
  21. 1725–1729: 
  22. 1729–1732: 
  23. 1732–1735: 
  24. 1735–1737: 
  25. 1737–1741: 
  26. 1741–1743: 
  27. 1743–1750: 
  28. 1750–1761: 
  29. 1761–1775: 
  30. 1775–1777: 
  31. 1777–1780: 
  32. 1780–1796: 
  33. 1796–1801: 
  1.  Pieter Both
  2. Gerard Reynst
  3. Laurens Reael
  4. J Pieterszoon Coen
  5. P de Carpentier
  6. J Pieterszoon Coen
  7. Jacques Specx
  8. Hendrik Brouwer
  9. A van Diemen
  10. C van der Lijn
  11. Carel Reyniersz
  12. Joan Maetsuycker
  13. R van Goens
  14. C Speelman
  15. J Camphuys
  16. W van Outhoorn
  17. Joan van Hoorn
  18. A van Riebeeck
  19. C van Swol
  20. H.Zwaardecroon
  21. Mattheus de Haan
  22. Diederik Durven
  23. Dirk van Cloon
  24. Abraham Patras
  25. Adriaan Valckenier
  26. Johannes Thedens
  27. G. W van Imhoff
  28. Jacob Mossel
  29. P. A van der Parra
  30. J van Riemsdijk
  31. Reinier de Klerk
  32. W Arnold Alting
  33. P  van Overstraten
  1. 1801–1805: 
  2. 1805–1808: 
  3. 1808–1811: 
  4. 1811–1811: 
1811–1816:
Under British rule:
  1. 1811: 
  2. 1811–1816: 
  3. 1816: 

  1. 1816–1826: 
  2. 1826–1830:
  3. 1830-1833:
  4. 1833–1836: 
  5. 1836–1840: 
  6. 1840–1841: 
  7. 1841–1844: 
  8. 1844–1845: 
  9. 1845–1851: 
  10. 1851–1856: 
  11. 1856–1861: 
  12. 1861–1866: 
  13. 1866–1872: 
  14. 1872–1875: 
  15. 1875–1881: 
  16. 1881–1884: 
  17. 1884–1888: 
  18. 1888–1893: 
  19. 1893–1899: 
  20. 1899–1904: 
  21. 1904–1909: 
  22. 1909–1916: 
  23. 1916–1921: 
  24. 1921–1926: 
  25. 1926–1931: 
  26. 1931–1936: 
  27. 1936–1942: 
1942–1945:
Under Japanese control
  1. 1942–1948: 
  2. 1948–1949: 
  3. 1949
  1. Johannes Siberg
  2. A Henricus Wiese
  3. H Willem Daendels
  4. Jan Willem Janssens

 
  1. Gilbert Elliot-Murray
  2. Stamford Raffles
  3.  John Fendall, Jr.

  1. G van der Capellen
  2. L.Gisignies / H de Kock
  3. Graaf van den Bosch
  4. Jean Chrétien Baud
  5. Dominique J. de Eerens
  6. C S.W van Hogendorp
  7. Pieter Merkus
  8. J.C. Reijnst
  9. Jan Jacob Rochussen
  10. A Jacobus D van Twist
  11. C Ferdinand Pahud
  12. L  Jan  S van de Beele
  13. Pieter Mijer
  14. James Loudon
  15. Johan W van Lansberge
  16. Frederik s'Jacob
  17. Otto van Rees
  18. C Pijnacker Hordijk
  19. C Herman  van Wijck
  20. Willem Rooseboom
  21. Johannes B van Heutsz
  22. A W Frederik Idenburg
  23. J  Paul van L Stirum
  24. Dirk Fock
  25. A C Dirk de Graeff
  26. Bonifacius C de Jonge
  27. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer
  

  1. Hubertus van Mook
  2. Louis Beel
  3. A.H.J. Lovink